Aku hanya butuh dua hari untuk menyelesaikan novel yang tebalnya kira-kira 450 halaman itu. Novel itu memang cukup seru, tapi motivasi utamaku membacanya selekas mungkin adalah janjiku pada pemiliknya yang bahkan belum sempat membacanya sampai tuntas; aku akan menyelesaikan novel itu selambat-lambatnya tiga hari dan akan mengembalikan novel itu segera.

Lantas mengapa aku terburu-buru? Tak lain dan tak bukan karena waktu kepulanganku dari asrama dimajukan. Awalnya aku akan kembali ke rumah tanggal 15 pagi, tapi setelah dipertimbangkan kembali sepertinya tanggal 14 malam lebih baik. Bagian buruknya, rencanaku tak diimbangi dengan persiapan yang matang sehingga tanggal 14 siang sampai sore kuhabiskan untuk membenahi barang-barangku yang masih bertebaran.

Malamnya aku berangkat menuju Depok dengan travel, tepat jam delapan malam. Perjalanan itu cukup panjang, aku baru akan sampai di depan rumah pagi hari. Aku punya banyak waktu untuk beristirahat—dengan kata lain, tidur—dan menikmati pemandangan kota di malam hari.

Aku sudah hampir berpetualang ke alam mimpi ketika sebuah ingatan membuatku tersentak kaget. Novel pinjaman itu! Aku belum lagi mengembalikannya padahal aku sudah berjanji. Ingin aku segera mengirim sms pada teman sekamarku untuk menitipkan novel itu tapi apa daya, aku tak membawa ponsel. Aku harus menunggu hingga sampai di rumah dan berharap untuk tidak lupa.

Sampai aku di rumah jam enam pagi, dan aku baru teringat untuk mengirim sms itu lima jam setelahnya. Namun hatiku telah tenang karena teman sekamarku telah berjanji untuk mengembalikan novel itu. Lepas sudah bebanku, begitu kupikir.

Empat minggu kemudian, aku mendapat sms yang sangat mengejutkan. Sang pemilik menagih novelnya kembali! Kujawab, aku sudah menitipkannya pada teman sekamarku itu, tapi sang pemilik berkata tidak pernah menerima novel itu kembali. Oh oh, ada apa gerangan?

Aku segera mengkonfirmasi pernyataan sang pemilik pada teman sekamarku itu. Benar saja, ternyata ia malah menitipkan novel itu ke teman lainnya. Saat aku menanyakan kembali ke mana perginya novel itu pada teman yang dititipkan teman sekamarku itu, ia malah menyangkal pernah dititipi novel. Semua pihak menyangkal. Di mana novel itu kini? Hanya Allah yang tahu.

Apa yang harus kulakukan? Yang pertama kali terlintas di kepalaku adalah pergi ke toko buku dan membeli novel yang sama. Mungkin rencanaku itu sama sekali tidak diberkahi karena tak kutemukan novel itu di toko-toko buku yang kudatangi.

Mau tak mau aku wajib mengaku pada sang pemilik.

Aku benci melakukannya, tapi tak ada jalan lain. Alhamdulillah, sang pemilik memaafkanku. Aku berkata akan menggantinya dengan novel lain karena memang aku tak menemukan judul yang sama, tapi ia menolak. Sungguh ia baik hati, tapi aku tak mau begitu. Aku harus menggantinya.

Trauma aku karena kejadian itu. Tak lagi-lagi aku mempercayakan apapun milik orang lain pada siapapun sedekat apa pun aku dengan orang itu. Benda yang kupinjam adalah tanggung jawabku, dan kecuali dalam keadaan darurat aku tak akan mengalihkan tanggung jawab itu pada orang lain.

Nama        : Tudrika Sabila Sadida

NIM           : H44100014

Laskar       : 23

THE POWER OF DREAMS

Belum lama mengenalnya, aku sudah begitu mengaguminya. Ia penuh semangat, multi-talenta, supel, dan sangat aktif. Jiwa sosialnya patut dipuji, dan ia begitu mudah terharu. Ia juga tak pernah takut menyuarakan hal yang dianggapnya benar walau tidak sedikit yang mencibirinya.

Satu hal yang membuatku benar-benar terkesan padanya, adalah kemampuan berpikir logisnya yang hampir tak bercela. IQ-nya jelas berada jauh di atas rata-rata karena meski ia nyaris tak pernah belajar ia masih mampu untuk berada di jajaran atas peringkat di kelas. Ia bersantai semaunya, seringkali membolos, tidur di belakang kelas pada jam pelajaran yang tak menarik baginya, tapi apa semua itu menjadikannya tertinggal dalam pelajaran? Tidak.

Ia berubah drastis di kelas 2 SMA. Ia yang dulu kukenal sebagai anak badung meski baik hati kini menjadi pelajar alim. Buku catatannya penuh dan lengkap, penuh keterangan di sana-sini. Tak lagi ia terlambat masuk kelas, malah menjadi begitu rajin bertanya dan menghafal pelajaran. Oh, oh. Ada apa gerangan? Perubahan drastisnya pun menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan guru.

Tak lain dan tak bukan, ternyata ia telah menentukan tujuan hidupnya. Ia ingin menjadi mahasiswa ITB, dan ia sadar impiannya itu tak akan pernah menjadi nyata jika ia tak kunjung merubah pola hidupnya. Pola belajarnya. Ketika ia telah bertekad, tak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.

Kelas 2 SMA adalah masa penuh tanggung jawab. Ia aktif di OSIS, menjabat sebagai pemimpin redaksi di majalah sekolah, dan banyak lagi amanah yang diemban olehnya. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada prestasi akademisnya. Seringkali ia mengerjakan ulangan harian tanpa belajar sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mungkin sebenarnya masih cukup banyak waktu yang dimilikinya, tapi apalah anak SMA, sebagian besar masih belum bisa mengatur waktunya dengan efisien.

Puncaknya adalah saat ujian kenaikan kelas. Entah apa yang terjadi dengan sistem yang kami gunakan, yang jelas pemred-lah yang bekerja paling banyak saat mendekati deadline. Ia mengerjakan tugas layouter, dan memastikan semuanya layak cetak. Sebagai bawahannya, tugas utamaku nyatanya adalah menjadi ‘asisten’ dan menyemangatinya walau bukan itu yang tercantum dalam job desc-ku.

Ketika itu, kami melewati dua hari pertama ujian kenaikan kelas tanpa belajar sama sekali karena pekerjaan kami belum lagi selesai bahkan ketika deadline sudah terlewat—kami minta perpanjangan waktu, dan kami diberi dua hari untuk menyelesaikannya. Sebenarnya kami sama-sama membawa buku pelajaran saat akan menyelesaikan tugas itu, dan selama beberapa menit pertama aku memang membacakan beberapa poin penting untuknya sementara ia bekerja. Tapi seiring berlalunya waktu, perhatian kami terserap pada komputer. Selamat tinggal, buku pelajaran.

Dapat diduga, peringkatku meluncur turun. Begitu pula dengannya. Siapa pula yang dapat disalahkan? Kami hanya bisa bertekad untuk berjuang lebih keras di kelas tiga.

Semua murid belajar lebih sungguh-sungguh dan berusaha untuk menjadi lebih baik di kelas tiga. Tapi tidak ada yang seperti mantan pemred-ku itu. Ia membuat jaring besar dari tali rafia mengelilingi tempat tidurnya. Untuk apa gerangan? Sebagai pencegah agar ia tak lagi belajar di tempat tidur yang hanya akan mengantarkannya ke alam mimpi alih-alih dunia ilmu. Jadilah ia hanya tidur beralaskan tikar dan sajadah untuk kurun waktu yang cukup panjang.

Usai UN, saat kami berleha-leha sembari belajar asal menjelang UAS, ia sudah kembali tenggelam dalam lautan soal dan buku-buku. Sungguh rajin ia. Ingin aku memiliki seperempat saja dari seluruh semangatnya yang menggebu-gebu, tapi rasanya aku sudah sangat bersyukur jika memiliki setidaknya sepuluh persen. Harus kuakui, aku bukanlah orang yang mampu menjadi rajin untuk jangka waktu yang cukup lama.

Penantian akan pengumuman hasil UN selalu terasa begitu lama dan mendebarkan, terlebih dengan semua kabar burung yang berseliweran. Memang akan diadakan remedial untuk angkatan kami, tapi semua murid normal pastinya ingin lulus pada kesempatan pertama. Masa itu digunakan kebanyakan dari kami untuk mengikuti bimbingan belajar program intensif SNMPTN.

Mantan pemred-ku itu memang terbilang cukup nekat. Ia ingin menjadi mahasiswi ITB, tapi ia tak berminat mengikuti jalur lain selain SNMPTN. Mungkin orangtuanya sudah sangat cemas memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, karena mereka berhasil mendesaknya untu mengikuti UMB.

Memang  belum rezeki, karena UMB belum bisa mengantarkannya pada cita-citanya. Tapi ternyata hal itu hanya memicu semangatnya untuk belajar lebih keras menjelang SNMPTN. Akhirnya, datang juga lah hari yang menentukan itu.

Malam pengumuman SNMPTN sangatlah heboh. Terdengar pekik bahagia di sana-sini, juga isak kecewa karena belum lagi terkabul apa yang begitu diharapkan. Dengan semua keriuhan itu, wajarlah jika aku ikut merasa gugup.

Aku mengirim sms pada semua teman yang kukira mengikuti SNMPTN, tapi tidak sedikit juga yang tidak merespon sama sekali. Rasa tidak enak hati pun melanda karena kabar bahagia yang kudengar tidak sepadan dengan jumlah sms yang kukirimkan.

Saat mencari kabar tentang kelanjutan nasib mantan pemred-ku tersayang, aku tak bisa menahan haru saat mendengar kabar keberhasilannya. Mimpinya telah terwujud; ia resmi terdaftar sebagai mahasiswi ITB jurusan Teknik Industri!!! Mengingat perjuangannya, kupikir ini semua lebih dari layak untuk ia dapatkan.

Tak pernah sedetik pun ia merasa ragu. Tak peduli ia akan cibiran orang-orang di sekitarnya. Ia hanya mempercayai kemampuan dirinya sendiri, ditambah dengan usaha tanpa kenal menyerah dan doa yang tak putus-putus.

Dan akhirnya, kita semua bisa melihat bagaimana kekuatan mimpi dan doa telah membuat keajaiban yang nyata.